Uang Beredar Akhir Tahun Akan Meningkat Sesuai Musim

Inanews – Bank Indonesia memprakirakan jumlah uang beredar pada akhir tahun akan meningkat sesuai musim tingginya permintaan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, uang beredar dipengaruhi oleh kebutuhan transaksi. Dia menilai pencatatan uang beredar yang melambat pada Oktober 2019 tidak menandakan permasalahan dalam pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, uang yang digunakan untuk transaksi khususnya uang dalam arti sempit (M1), dipengaruhi oleh naik dan dan turunnya transaksi.

“Jadi akan wajar kalau saat Lebaran belanja banyak, uang beredar naik. Setelah Lebaran disetorkan kembali dan setelah Lebaran uang beredar turun, dan akhir tahun naik lagi sesuai pola,” ungkap Perry saat Rapat Dewan Gubernur beberapa waktu yang lalu.

Asal tahu saja, Bank Indonesia telah menyatakan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) begitu pula uang beredar dalam arti sempit keduanya tumbuh melambat pada Oktober 2019.

Dilansir dari laporan yang dirilis Bank Indonesia, Jumat (29/11/2019), posisi M2 pada Oktober 2019 tercatat Rp6.025,6 triliun atau tumbuh 6,3 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 7,1 persen (yoy).

Adapun perlambatan M2 berasal dari seluruh komponennya. Komponen uang kuasi melambat, dari 7,0 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 6,1 persen (yoy), dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan simpanan berjangka, tabungan dan giro valuta asing (valas).

Uang beredar dalam arti sempit (M1) juga menunjukkan perlambatan, dari 6,9 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 6,6 persen (yoy) pada Oktober 2019, terutama bersumber dari perlambatan giro rupiah.

Demikian juga surat berharga selain saham, melambat dari 39,1 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 33,4 persen (yoy) pada bulan laporan.

Baca Juga:  Ignasius Jonan Terima Uang Pensiun Menteri, Berapa Nilainya?

Sementara itu, uang kartal tumbuh meningkat, dari 4,0 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 5,1 persen (yoy) pada Oktober 2019.

“Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kisaram 5 persen, pertumbuhan uang beredar akan 6 persen sampai 7 persen. Tunggu kalau pertumbuhan ekonomi naik, maka uang yang diedarkan naik,” jelasnya.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 pada Oktober 2019 disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih serta aktiva dalam negeri bersih.

Bank Indonesia menyatakan, pertumbuhan aktiva luar negeri bersih tercatat melambat, dari 2,7 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 1,9 persen (yoy).

Sementara itu, aktiva dalam negeri bersih pada Oktober 2019 tumbuh sebesar 7,9 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 8,6 persen (yoy).

Perlambatan pertumbuhan aktiva dalam negeri bersih terutama disebabkan oleh penyaluran kredit yang tumbuh lebih rendah, dari 8,0 persen (yoy) pada September 2019 menjadi 6,6 persen (yoy) pada Oktober 2019.

Selain itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat mengalami kontraksi sebesar -10,0 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar -7,5 persen (yoy).

Perkembangan tersebut sejalan dengan peningkatan kewajiban sistem moneter kepada Pemerintah Pusat terutama dalam bentuk simpanan.