Sentuh USD10.000, Bitcoin Cetak Nilai Tertinggi Sejak 2017

Inanews – Grafik Bitcoin menunjukkan pergerakannya berada di level tertinggi sejak 2017. Walau demikian, tren Bitcoin dinilai masih berada dalam jangka pendek sehingga belum bisa digunakan lebih jauh.

Selain itu, masih terjadi perdebatan antara para investor, apakah Bitcoin masuk sebagai investasi berharga seperti obligasi atau emas. Apalagi dengan kehadirannya, Bitcoin dirasa merusak mata uang.

Tidak ada yang sempurna jika membahas tentang Bitcoin. Namun pada 12 bulan terakhir, Bitcoin menunjukkan level tertinggi bahkan hampir setara dengan obligasi dan emas. Pada kurun waktu setahun, Bitcoin berhasil menjadi tren karena kesepakatan perdagangan AS-China membuahkan hasil.

Mengutip Forbes, Jakarta, Senin (10/2/2020), jika dilakukan pemotongan dari bank sentral, Bitcoin dinilai memiliki kenaikan besar dibandingkan dengan obligasi dan emas. Jika suku bunga naik diiringi dengan perekonomian stabil, penggunaan Bitcoin akan berkurang.

Saat ini, emas sedang berada di harga tertingginya sejak 7 tahun lalu, obligasi berada di puncak sejak awal Oktober 2019, dan Bitcoin hampir menembus USD10.000 per Bitcoin.

Sebelumnya, perekonomian dunia masih dibayangi oleh penyebaran wabah virus korona. Menurut Bank Sentral Amerika Serikat (AS), ekonomi AS sudah membaik namun masih dihantui virus korona.

“Risiko kerugian pada prospek AS tampaknya telah surut pada akhir tahun ini. Konflik atas kebijakan perdagangan agak berkurang, pertumbuhan ekonomi di luar negeri menunjukkan tanda-tanda stabil, dan kondisi keuangan mereda,” kata The Fed.

Baca Juga:  Pasar Crypto Terlihat Mulai Anjlok Kembali, Apakah Ia Masih Bisa Naik?