Rupiah Jeblok, PLN Klaim Tak Naikkan Harga Listrik

Inanews – PT PLN (Persero) menjamin tidak akan mengerek tarif listrik meski beban akibat pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) membengkak.

“(Tarif listrik) tetap tidak naik. Jadi (kenaikan) beban PLN siapa tahu diperhitungkan pemerintah dalam bentuk subsidi untuk tahun berikutnya,” ujar Direktur Utama PLN Sofyan Basir di sela acara halal bihalal di kediaman Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, Jakarta, Sabtu (30/6).

Baca juga : Perang dagang AS-China Akan Meluas ke Negara-negara di Asia

Tahun lalu, lanjut Sofyan, pemerintah masih utang subsidi sekitar Rp5 triliun yang baru akan dibayarkan pada 2019 setelah dilakukan verifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Untuk tahun 2016, sambungnya, utang subsidi pemerintah masih sekitar Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.

Pelemahan nilai tukar berpengaruh terhadap melonjaknya beban perseroan. Pasalnya, perseroan masih harus membayar sejumlah beban dalam mata uang dolar AS. Misalnya, untuk pembayaran produksi listrik dari perseroan ke produsen swasta maupun cicilan utang valuta asing.

Dalam beberapa hari terakhir, rupiah keok melawan dolar akibat sentimen global yang dipicu oleh risiko perang dagang antara AS dan China. Bahkan, kurs rupiah sempat menembus Rp14.400 per dolar AS pada Jumat (29/6) kemarin.

“Memang, lompatan signifikan yah (kurs rupiah) sudah sampai Rp14.400 (per dolar AS). Sesuai pernyataan Bank Indonesia, semoga sementara,” ujar Sofyan.

Jika rupiah terus melemah, laba PLN pada saat tutup buku di akhir tahun terancam tergerus karena beban yang membengkak. Namun, Sofyan tak menyebutkan berapa kisaran lonjakan beban yang ditanggung oleh perusahaan.

“Ini kan belum sampai (akhir tahun), mudah-mudahan (dolar AS) bisa turun lagi kan sehingga kami bisa menghitung yang lebih riil,” ujarnya.

Baca Juga:  Dua Tahun Berdiri, AIIB Sudah Salurkan US$5,34 Miliar Untuk Infrastruktur

Melihat volatilitas rupiah, perseroan tidak tinggal diam. Untuk beberapa pengeluran yang dibayar dengan dolar AS, perseroan telah melakukan lindung nilai (hedging).