Prabowo Sebut Cadangan Devisa RI Kekecilan, Ini Penjelasan BI

Inanews  – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyebut jumlah cadangan devisa RI terlalu kecil jika dibandingkan dengan Singapura. Hal itu disampaikan saat Prabowo berpidato dalam acara Halalbihalal di Semarang.

Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Nanang Hendarsah menjelaskan jumlah cadangan devisa RI saat ini masih bisa untuk membiayai 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) jangka pendek pemerintah.

“Masih jauh di atas standar minimal internasional yaitu tiga bulan impor,” kata Nanang saat dihubungi  Selasa (26/6/2018).

Baca juga : Gerindra Bantah Kritik Prabowo ke Pemerintah Demi Menang Pilkada

Dari data BI hingga akhir Mei cadangan devisa tercatat US$ 122,9 miliar. Jumlah ini memang lebih rendah dibandingkan posisi April 2018 sebesar US$ 124,9 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Penurunan cadangan devisa pada Mei 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang membaik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.

Baca Juga:  Ekspor RI Naik 11,47% Juni 2018, Nilainya US$ 13 Miliar