Prabowo Datang, Rizieq Pulang, dan Jokowi Senang

Inanews – Safari Prbowo Subianto ke hampir semua Ketua Umum partai politik koalisi pendukung Joko Widodo menarik untik dilihat. Ketua Umum Partai Gerindra ini begitu lincah beranjangsana ke Megawati( PDIP ) , Suharso Manoarfa ( PPP ), Surya Paloh ( Nasdem ) , Muhaimin Iskandar ( PPP ), Airlangga Hartarto ( Golkar ). Kelincahan ini terlihat begitu berbeda, penuh dengan energi dan optimisme dibandingkan dengan pada saat Prabowo masih bertarung dengan Jokowi dalam Pilpres kemarin.

Jargon persatuan dan kepentingan nasional harus dijaga serta ditempatkan diatas segalanya selalu dibawa prabowo dalam setiap langkahnya menjalani zig zag politik ini. Publik pun tidak sukar untuk menebak jika sebenarnya langkah prabowo bersafari adalah memuluskan Gerindra untuk bergabung dalam kabinet Jokowi Periode 2019-2024. Sinyal bergabungnya Gerindra sudah sangat jelas tergambar ketika Prabowo bertemu dengan Jokowi di Istana Negara, Jumat 11 Oktober 2019. Namun demikian bergabungnya Gerindra ke dalam kabinet perlu mendapat restu dab dukungan dari parpol koalisi Jokowi.

Yang cukup menarik dengan langkah Prabowo saat ini adalah diamnya FPI ( Front Pembela Islam ) beserta PA 212. Padahal publik tahu jika FPI dan PA 212 adalah pendukung jangkar Prabowo dan Sandiaga Uno dalam Pilpres yang di menangi oleh Jokowi. Langkah Prabowo tidak di tentang dan di kritik , para petinggi FPI dan PA 212 memilih menahan diri untuk berkomentar dan cenderung diam .
Padahal semua orang tau, salah janji politik Prabowo jika memenangkan Pilpres adalah membawa pulang Imam besar FPI, Habib Rizieq Shibab.

Merapat nya ke  Prabowo ke Prabowo apakah akan membawa kebaikan pada FPI, PA 212 ataukah sebaliknya? jika dianggap membawa keburukan mengapa label ” penghianat ” tidak di lontarkan kepada Prabowo dengan langkah politiknya. Khalayak umum mengetahui FPI, PA 212 sudah lama bersebrangan dengan Jokowi. bahkan beberapa kejadian yang melibatkan unsur pemerintahan Jokowi dengan kedua organisasi ini sehingga muncul stigma jika jokowi anti dan memusuhi ulama dan islam.

Baca Juga:  Lobi-Lobi Politik Prabowo, Terpaksa Karena 3 Kali Kalah atau?

Jokowi sebagai presiden tentu ingin membersihkan stigma negatif yang tidak pro islam. Namun Upaya menundukan FPI dalam kerangka tersebut belum berhasil hingga kini. keadaan lah pada akhirnya yang mempertemukan Jokowi dengan Prabowo dalam suatu kesamaan kepengtingan. Jokowi ingin agar pemerintahannya di edisi kedua di dukung oleh segenap lapisan rakyat tanpa embel-embel bermusuhan dengan golongan / umat tertentu apalagi stigma anti ulama dan islam. Sementara Prabowo sangat sadar ide-ide gagasan besarnya akan indonesia tidak akan bisa dijalankan tanpa keterlibatan dalam pemerintahan, lebih efektif masuk kabinet dari pada menajdi oposisi terus menerus.

Nampaknya usaha Jokowi Untuk membersihkan diri dari stigma negatifanti islam akan segeta terwujud. Ormas Islam terbesar Nahdlatul Ulama ( NU ) sudah pasti mendukung  Jokowi yang telah memberikan banyak ” hadiah ” pada kaum Nahdliyin seperti hari santri,pembangunan Balai Latihan kerja ( BLK ) di pesantren, dan masih banyak lainnya. Sementara Muhammadiyah cenderung menjaga jarak dengan politik praktis, hanya menempatkan kadernya sebagai menteri di kabinet Jokowi. Tinggal permasalahan dengan FPI dan PA 212 terutama menyangkut  Habib Rizieq yang perlu di garap.

Sikap diamnya FPI maupun PA 212 akan masuknya Prabowo ke gerbong Jokowi patut diduga berkaitan dengan kepulangan Habib Rizieq. FPI sudah lama menuduh kepulangan Rizieq ke Indonesia dirintangi oleh pemerintah . Prabowo atau Gerindra pada Jokowi agar ” mengijinkan ” Rizieq balik ke Indonesia. Kepulangan Rizieq ke Indonesia akan membawa kebaikan baik pada Prabowo maupun Jokowi.

Untuk Prabowo jika berhasil membawa pulang Rizieq maka dia berhasil memenuhi salah satu janji politiknya meskipun tidak menjadi presiden, Namun jika gagal prabowo bisa di anggap sebagai penghianat dan malah membuat permusuhan baru dengan FPI maupun PA 212. Kepulangan Rizieq ke Indonesia juga akan menunjukan keseluruh lapisan masyarakat jika Jokowi tidak anti islam maupun memusuhi ulama serta memulihkan hubungan dengan beberapa golongan islam berserta ulamanya

Baca Juga:  3 Kemungkinan Mengapa Jokowi Enggan Libatkan KPK dalam Penentuan Kabinet Jilid II

Jokowi memerlukan Prabowo untuk memulangkan Rizieq, dan lewat Prabowo Pula Jokowi bisa ” menundukan ” FPI maupun PA 212 . jika hal ini terwujud, maka semua pihak di untungkan, persatuan dan kesatuan nasional serta stabilitas politik terjaga dan memudahkan Jokowi menjalan kan program-programnya di periode kedua pemerintahannya. Pada akhirnya Jokowi tiggal mengelola hubungan antar ormas islam agar tidak baling bergesekan, dengan FPI dam PA 212 sudah masuk di dalamnya.