Menimbang Untung Rugi Beli Motor Kredit dan Tunai

Inanews – Bagi sebagian warga yang beraktivitas rutin di DKI Jakarta, memiliki motor kelihatannya menjadi sebuah keharusan. Bukan hanya karena harganya yang terjangkau, tetapi juga alat transportasi beroda dua itu juga bisa menjadi andalan warga untuk menerjang kemacetan di kota besar.

Kebutuhan itu seketika mudah terpenuhi dengan tawaran kredit motor yang merajalela dari berbagi perusahaan pembiayaan (leasing). Bahkan dengan modal kurang dari Rp1 juta saja, seseorang sudah bisa memiliki motor.

Dhanang David Aritonang (26) misalnya, pria yang mengadu nasib di Jakarta ini lebih memilih membeli motor dengan kredit pada Desember 2016 lalu. Modal yang murah menjadi alasan utamanya memilih metode tersebut dibandingkan secara tunai.

“Waktu itu modalnya hanya cukup untuk bayar uang muka dan memang ingin mencoba mencicil barang dengan uang sendiri,” cerita Dhanang, Kamis (7/2).

Dhanang menyadari betul bahwa akumulasi dana uang muka hingga cicilan akhir yang dia setorkan kepada leasing jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan membeli motor secara tunai. Namun, skema kredit dinilai lebih ringan bagi Dhanang.

“Tapi kalau kredit kan cicilannya tidak terasa juga, tiba-tiba sudah lunas saja,” terang Dhanang.

Ia mengungkapkan harga motor yang dibelinya senilai Rp15 juta. Sementara itu, Dhanang harus merogoh kocek sebesar Rp750 ribu per bulan untuk membayar cicilan motor tersebut selama 29 bulan atau dua tahun lebih.

Jika ditotal, Dhanang mengeluarkan dana sebesar Rp22,5 juta. Angka itu lebih tinggi Rp7,5 juta atau 50 persen dibanding dengan harga asli motor bila dibeli secara tunai.

Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo mengatakan pembelian motor secara kredit dan tunai memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bila secara kredit, seseorang dengan modal tipis pun bisa langsung memiliki motor yang diinginkan. Berbeda dengan membeli tunai, ia harus menabung selama beberapa tahun dulu.

“Kalau belum punya kredit, tapi belum ada tabungan bisa juga membeli motor. Bahkan bisa beli motor yang lebih bagus empat sampai lima kali lipat dari kemampuan orang itu sebenarnya,” ucap Budi.

Baca Juga:  Solusi Jangka Pendek Perkuat Rupiah ala Anwar Nasution

Pembelian kendaraan secara kredit dapat meningkatkan kemampuan daya beli pelanggan karena pada dasarnya sistem kredit meringankan pelanggan. Terlebih, pembeli motor dengan kredit bisa langsung mendapat asuransi.

“Asuransi untuk asuransi kehilangan motor, itu sudah termasuk kalau beli secara kredit. Pembeli tidak perlu membeli asuransi lagi,” jelas Budi.

Ia berpendapat, bagi orang yang membeli untuk kebutuhan usaha justru dianjurkan untuk membeli secara kredit. Sebab, kebutuhannya membeli motor bukan untuk konsumsi, melainkan produksi.

“Jadi bagi pengusaha dengan modal kecil bisa langsung memulai usahanya, tidak harus menunggu lama. Lagipula dia membeli kan menghasilkan uang tiap bulannya jadi bisa untuk bayar kredit,” tutur Budi.

Namun, pembeli yang menggunakan skema kredit juga perlu memperhatikan jangka waktunya. Bila memilih jangka waktu lama, maka beban yang dipikul juga semakin banyak.

“Maksimal tiga tahun saja, jangan terlalu lama. Tapi kalau untuk usaha lebih panjang lagi tidak apa-apa. Misalnya empat sampai lima tahun,” papar Budi.

Hanya saja, ia juga mengakui kalau jumlah dana yang harus dibayarkan akan lebih banyak bila menggunakan metode kredit. Makanya, Budi menyarankan konsumen membeli secara tunai jika memiliki tabungan yang cukup. Namun, kalau pun terpaksa kredit, perhatikan jangka waktunya.

Sementara itu, keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyebut masing-masing orang tentu memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Ia mengatakan orang yang hendak membeli motor tapi memiliki tabungan yang cukup, sebenarnya tidak masalah untuk memiliki skema kredit.

Masalahnya, kebutuhan orang tak hanya untuk membeli motor. Namun juga hal lainnya, misalnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kalau dana menanggur ya bisa beli motor tunai, tapi kalau dana sedikit tapi kebutuhan motor besar, untuk bekerja, lalu mengantarkan anak sekolah ya kredit bisa jadi alternatif,” ungkap Andi.

Letak perbedaan antara membeli motor secara kredit dan tunai, kata Andi, hanya pada total dana yang digelontorkan dan fasilitas asuransi. Namun, opsi kredit kadang membuat orang yang sebenarnya tidak butuh menjadi membeli karena tergiur oleh harga awal yang murah.

Baca Juga:  Saham Freeport McMoran di AS Anjlok Pasca Pengumuman Akuisisi

“Jadi orang secara psikologis beli, karena ada kemudahan akses kan sebenarnya di situ,” terang Andi.

Untuk itu, ia menekankan masyarakat untuk memastikan kebutuhannya saat itu, apakah memang benar-benar butuh untuk membeli motor atau tidak. Pasalnya, pembelian motor hanya pemborosan jika hanya tergoda harga murah.

Menyambung pernyataan Andi, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menilai setiap orang yang membeli motor harus siap merugi. Maklum, aset motor tak seperti tanah yang harganya terus naik.

“Hitungannya nilainya turun, harga saat mau dijual lagi turun,” tutur Eko.

Jadi, jumlah rugi jika membeli motor secara kredit dua kali lipat dibandingkan dengan beli secara tunai. Sebagai gambaran yang mengacu pada cerita Dhanang tadi, jika ia mau menjual motornya dan hanya laku dengan harga Rp7,5 juta atau setengah dari harga pembelian.

Artinya, Dhanang harus menanggung kerugian dari harga belinya mencapai Rp15 juta. Namun, jika Dhanang membeli motor itu secara tunai, kerugiannya hanya Rp7,5 juta.

“Makanya harus pilih-pilih jangka waktu dan bunga juga. Biasanya kalau semakin lama jangka waktunya bunga yang harus dibayar juga semakin tinggi,” jelas Eko.

Tapi lagi-lagi, semua kembali kepada kemampuan finansial calon pembeli. Walaupun kerugian membeli kredit menjadi dua kali, tapi itu bisa menjadi alternatif bagi yang membutuhkan motor secara cepat.

Eko menambahkan bahwa bukan berarti pembelian tunai tidak ada kekurangannya. Seseorang yang membeli secara tunai terpaksa kehilangan banyak tabungannya saat itu juga untuk membeli motor. Bagi karyawan yang masih mendapatkan gaji terbatas, hal ini jelas menyulitkan.

“Lalu juga menghilangkan kenikmatan, menunda kenikmatan untuk memiliki motor,” pungkas Eko.