Kualitas kredit emiten konstruksi menurun

Inanews–  Kualitas pembayaran kredit sektor konstruksi swasta skala menengah sedikit terganggu. Akibatnya, pengembalian kredit ke sektor perbankan tampak tersendat.

Ambil contoh, PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Kemampuan aset lancar ACST untuk menjamin utang lancarnya (current ratio) berada dalam tren penurunan.

Baca Juga :  Semester I , Laba Bersih Adaro Energy Turun 12,14 Persen 

Mengutip Bloomberg, sepanjang semester I-2018, current ratio ACST ada di rentang 1,17 kali1,27 kali. Padahal, rentang di periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 1,3 kali1,49 kali.

Current ratio PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) relatif lebih baik. Namun, justru kemampuan aktiva lancar TOPS untuk menutup utang lancarnya (quick ratio) turun. Per Juni tahun ini, quick ratio TOPS sebesar 0,22 kali. Padahal, tahun lalu rasionya masih di kisaran 0,3 kali.

Sejalan dengan penurunan rasio likuiditas tersebut, pengembalian kredit dari sektor konstruksi swasta tampak tersendat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), non-performing loan (NPL) perbankan dari sektor konstruksi mencapai 4,35% di semester I-2018, naik dari 3,92% di semester I-2017.

Maria Cesilia Hapsari, Sekretaris Perusahaan ACST, tak menampik kondisi tersebut. Secara spesifik, kondisi tersebut terjadi di perusahaan konstruksi kelas menengah ke bawah. “Terutama mereka yang mengerjakan proyek-proyek non-infrastruktur,” ujar Maria kepada KONTAN, Jumat (24/8).

Proyek pemerintah

Hal tersebut tidak terjadi pada perusahaan konstruksi yang menggarap proyek infrastruktur, terutama proyek pemerintah. Proyek ini membuat rasio likuiditas kontraktor relatif lebih baik. Sebab, pendanaannya lebih jelas dan aman. Sehingga, potensi tersendatnya pembayaran dari pemilik proyek lebih minim terjadi.

Sayang, porsi kontrak proyek pemerintah yang diterima ACST belum dominan. ACST sejak awal tahun hingga saat ini telah mengantongi enam proyek. Total nilai proyeknya mencapai Rp 275 miliar.

Baca Juga:  Prabowo Tak Mampu, Makanya Butuh Lima Asisten Khusus?

Dari jumlah tersebut, porsi proyek pemerintah hanya sekitar 10%. “Kebanyakan untuk pengerjaan pondasi,” beber Maria.

Turunnya rasio likuiditas ACST juga tak lepas dari skema pembayaran yang umum digunakan dalam dunia konstruksi, turnkey. Dalam skema ini, pembayaran baru dilakukan setelah proyek selesai 100%.

Maria menambahkan, manajemen akan berupaya menjaga supaya rasio likuiditasnya selalu dalam kondisi yang sehat. “Current ratio kami jaga di atas 1 kali,” tambah Maria.

Salah satu caranya, ACST mengejar proyek infrastruktur. Sayang, manajemen belum bersedia mengungkapkan proyek mana yang tengah diincar. Maria memastikan, perusahaan saat ini tengah mengikuti proses tender.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, penurunan rasio likuiditas emiten konstruksi swasta masih dalam batas yang wajar. Namun, tak bisa dipungkiri penurunan itu merupakan indikasi tersendatnya kredit dari sektor tersebut.

Terutama, pembayaran kredit dari kontraktor yang size bisnisnya tidak terlalu besar. “Di level menengah kebanyakan masih lemah karena ketatnya persaingan,” ujar William.

Emiten konstruksi swasta juga harus bersaing dengan emiten pelat merah. Padahal, persaingan di antara perusahaan swasta juga sudah ketat.

Oleh karena itu, William memprediksi tekanan di sektor konstruksi swasta masih akan terjadi hingga tahun depan. Selama belum terlihat sentimen positif, masih agak sulit mentransaksikan saham emiten konstruksi untuk jangka pendek.

Baca Juga :  Tahun Depan, Kantong Plastik Kresek Bakal Dikenakan Cukai 

William melihat, TOPS didukung sentimen yang relatif lebih positif. Terlebih lagi, perusahaan ini tengah mengerjakan proyek rumah DP Rp 0 besutan Anies-Sandi.

Dia merekomendasikan buy saham TOPS dengan target harga Rp 1.000 per saham hingga akhir tahun. Kemarin, saham TOPS turun 5 poin ke level Rp 885 per saham.

Baca Juga:  Subsidi Energi Tahun Depan Naik Menjadi Rp 157,79 Triliun

Kredit : investasi.kontan.co.id