Konflik AS Vs Iran Berlanjut di Dunia Maya, Indonesia Diminta Waspada

Inanews Konflik Amerika Serikat (AS) Vs Iran tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga sudah masuk ke ranah dunia maya. Warganet diimbau berhati-hati dalam menggunakan jaringan internet maupun media sosial, lantaran adanya peningkatan aktivitas serangan siber kedua negara.

“Ya memang meningkat. Cuma ada tujuan tertentu biasanya melakukan itu ada infomasi atau ada apa yang ingin didapatkan,” kata CEO NTT Indonesia, Hendra Lesmana, di Jakarta, Senin, 13 Januari 2020. Namun, ia mengaku belum memiliki data jumlah serangan yang dilancarkan AS ke Iran dalam satu kuartal terakhir.

Meski begitu, Hendra mengaku Indonesia telah melakukan antisipasi sebagai dampak dari imbasnya serangan siber akibat konflik AS dan Iran. “Bisa di cek ada berbagai macam aktivitas oleh BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) untuk memberi peringatan. Semacam Best practice, apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan saat ini terjadi cyberwarfare antara kedua negara, yang kemungkinan besar diikuti oleh negara-negara lain maupun kelompok-kelompok tertentu.

Ia mencontohkan negara bagian Texas di AS yang dilaporkan menerima serangan siber lebih dari 10 ribu kali sejak 6 Januari 2020. Situs atau website Program Penyimpan Federal (The Federal Depository Library Program) diserang dengan mengubah tampilan situs menjadi ada bendera Iran.

Selain itu, foto pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dan gambar wajah Presiden AS Donald Trump dengan mulut berdarah karena ditinju oleh Garda Revolusi Iran.

“Dalam sejarah pertikaian Iran, AS, dan Israel memang selalu melibatkan saling retas, saling serang sistem. Yang paling terkenal adalah serangan stuxnet dari Israel yang menargetkan sistem nuklir Iran,” ungkap Pratama.

Baca Juga:  Dituding Nikita Mirzani Serba Settingan, Uya Kuya Beri Tanggapan Santai

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu hal yang perlu dilakukan masyarakat adalah menghindari pemakaian VPN (virtual private network) menggunakan negara-negara yang sedang berkonflik beserta sekutunya.

VPN digunakan untuk mengelabui blokir internet maupun untuk mengamankan jalur komunikasi, masyarakat sempat ramai memakai VPN saat media sosial dibatasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada pertengahan 2019.

“Disarankan tidak menggunakan IP negara berkonflik untuk menghindari adanya serangan malware ke IP negara yang sedang berkonflik,” tutur Pratama.

Sebagai informasi, satu pekan pascatewasnya Komandan Pasukan Khusus Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, ditemukan 35 persen serangan ke Iran. Lalu, 17 persen serangan ke AS serta 7 persen berada di Israel.