Ketika Jokowi Seorang Libero

Inanews – Jokowi adalah seorang libero, begitu kata kawan saya sambil menyerutup kopi dampit cold brew. Agak heran saya mendengar istilah itu, karena Libero adalah posisi pemain bola yang sudah tidak familiar.

“Iya, memang Jokowi suka style yang susah ditebak, terlihat bertahan, padahal sebetulnya sedang membangun serangan,” ujar kawan saya.

Istilah libero booming pada era 60-an, ketika Franz “der kaiser” Beckenbauer, pesepak bola Jerman Barat, yang awalnya adalah seorang sweeper, mampu merengsek maju dan mencetak gol. Bukan hanya itu, Beckenbauer juga berperan sebagai jendral lapangan, naik membantu serangan sekaligus pengatur ritme permainan. Sejak saat itu, istilah libero seakan “sakral” sekaligus menakutkan.

Sweeper, adalah posisi yang ada di belakang tiga bek. Secara teknis, sweeper bertugas meng-cover bek di depannya, penghalau bola terakhir sebelum kiper. Sweeper kadang terlihat, kadang tidak. Ketika menyerang, lini belakang bisa dicover oleh bek asli, dan sweeper bisa berubah wujud di posisi apa saja, tanpa terlihat. Itulah libero.

Seperti yang dilakukan Sergio Busquets pada laga Barcelona versus Atletico Madrid Januari 2016. Ketika itu Barcelona tertinggal 0-1. Busquets yang aslinya gelandang bertahan pun beralih posisi sebagai sweeper untuk menahan gempuran dua striker Atletico yang ganas. Ketika pertahanan bisa dikuasai, Busquests naik membantu lini tengah dan depan, Atletico kaget dengan perubahan ini dan hasilnya Barcelona menang 2-1.

Disinilah peran Jokowi dalam tugas memainkan ritme 2019. Segala serangan yang diarahkan padanya selalu dijawab dengan santai. Dengan ciri khas, didiamkan dahulu lalu kemudian diklarifikasi dengan data dan fakta.

“Jokowi sebagai sweeper, orang terakhir di lini belakang, menangkis fitnah, lantas mengolah bola fitnah tadi di belakang, lalu mencari celah untuk maju. Untuk lawan yang paham, itu strategi paling mengerikan”

“Abang tahu, istilah mencekik leher dengan kapas?” tanya dia.

“Enggak, ngeri banget istilahnya,” jawab saya.

“Ngeri lah, sekarang Jokowi dan tim maju dengan senjata yang lawan pakai saat 2014 dan 2016. Kita saja baru tahu kalau keluarga pentolan oposisi itu Natalan, Jokowi mungkin sudah tahu dari dulu. Hanya perlahan, perlahan, dia mainkan informasi ini, sampai eeggh!” ujar kawan saya sambil meniru gaya prajurit yang menusuk lawan.

“Sekarang siapa yang bisa mengklarifikasi Natalan-nya Capres pilihan Ulama? Justru mereka sibuk membela diri, tapi kocar-kacir, tidak ada pertahanan yang disiapkan,” sambungnya.

Prabowo merayakan Natal adalah hal yang biasa, wajar. Jika memang Prabowo mualaf pun biasa saja. Umat Islam, Kristen, Hindu, Buddha bebas merayakan Hari Raya, dijamin oleh Negara. Tapi menjadi ramai karena sejak 2014, Jokowi selalu disudutkan dengan isu agama, bahkan difitnah.

Hingga sebuah klarifikasi datang dari Jokowi langsung yang menjelaskan dengan gamblang asal usulnya hingga agama yang turun temurun. Fitnah komunis pun dihalau dengan pelan dan simple sekali; komunis itu tahun ’65, ketika itu Jokowi masih balita, mana nyambung? Sangat logis dan simple.

Masyarakat pun paham, mana kelompok yang sering memainkan hoaks dan fitnah sebagai senjata.

Serangan sentimen agama ke Prabowo adalah anti-thesis dari pola yang dibangun tim oposisi selama ini. Satu sisi orang bicara itu karma, tapi kok saya tidak. Ini bagian dari strategi.

Kunci manuver Jokowi sebagai libero didukung oleh gelandang bertahan yang visioner, Mahfud MD. Terlepas berbagai isu bahwa Mahfud berdiri di dua kaki, Mahfud menunjukkan kelasnya sebagai pengendali lapangan tengah. Twit-twit Mahfud yang menjelaskan panjang x lebar soal Freeport betul-betul membuat oposisi mati kutu. Mahfud dinilai berhasil menangkis serangan oposisi soal Freeport.

Dan soal Freeport, tak lepas dari peran striker di depan. Menteri ESDM Ignasius Jonan, dibantu oleh pemain sayap yang kerap melempar umpan untuk dieksekusi, Archandra Tahar.

Bukan hanya Freeport, tapi juga pengambilalihan blok Rokan, pengambilalihan blok Mahakam dan skema gross-split, yang telah menyumbang tambahan pemasukan negara sebesar 847 Milyar rupiah. Juga menjalankan kembali proyek-proyek pembangkit listrik yang mangkrak pada era sebelumnya.

Dan tentunya striker lainnya, seorang striker yang loyal dan giat bekerja. Basuki Hadimuljono. Mampu mengeksekusi dengan baik bola-bola umpan Jokowi di infrastruktur.

Yang patur diwaspadai dari kubu oposisi adalah pergerakan striker lincah, haus gol, memiliki energi dan sumber daya yang mumpuni. Sandiaga Uno. Tingkah “bodoh” nya senantiasa adalah strategi agar dirinya dikenal di media sosial. Sandiaga sanggup turun naik menjemput bola atau menciptakan peluang sendiri.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of