Kapolri Bentuk Tim Cari Bukti Penyebab Tengelam KM Sinar Bangun

Inanews – Polisi telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara. Tim itu akan mengumpulkan bukti-bukti penguat penyebab kapal tersebut tenggelam.

“Kita sudah bentuk tim dari Polda (Sumatera Utara), untuk dari Mabes Polri belum turun, kalau diperlukan baru turun. Kita akan kumpulkan bukti-bukti,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di seusai jenguk korban selamat KM Sinar Bangun di RS Rondahaim, Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (21/6/2018).

Tito mengatakan bukti-bukti itu akan dikumpulkan dari berbagai sumber. Bukti-bukti itu nantinya didapat dari KNKT, keterangan saksi-saksi hingga dokumen-dokumen kapal.

Baca Juga : Benarkah Harga Rumah Nenek Raffi Ahmad Rp 100 Miliar?

“Bukti itu dari tim KNKT karena yang tahu teknis, kenapa dia bisa terbalik. Kita juga kumpul bukti lain dari keterangan saksi, saksi ahli dari KNKT lalu dokumen-dokumen syahbandar, dokumen kapal, berapa kapal bisa muat berapa banyak, perizinannya dan seterusnya,” ucap Tito.

Selain itu, polisi juga memanggil pengawas dari Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Simalungun. Sebab menurut Tito, pengawasan terhadap KM Sinar Bangun ada di pemerintah daerah.

“Dalam kasus ini kita melihat memang ada kewenangan pusat tapi pengawasan harus disediakan daerah tingkat satu dan tingkat dua yakni provinsi dan kabupaten,” ungkapnya.

Baca Juga : Resep Takjil : Ketan Biru

Sebelumnya, Jenderal Tito menegaskan polisi masih menyelidiki dugaan kelalaian terkait tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara. Nakhoda disebut berpotensi menjadi tersangka.

“Penyelidikan awal, kita lihat kapal ini ada kelalaian-kelalaian yang terjadi,” kata Tito kepada wartawan setelah meninjau posko Tigaras, Simalungun, Sumut.

Baca Juga:  11 Desa di 7 Kecamatan Ponorogo Kekeringan, Tiga Minta Dropping Air

Dugaan kelalaian yang terjadi di antaranya memaksakan kapal diisi penumpang lebih dari muatan kapasitas. KM Sinar Bangun, yang tenggelam pada Senin (18/6)–sebelumnya disebut Kemenhub–hanya punya kapasitas angkut 43 orang.

Dugaan kelalaian lain adalah tidak adanya manifes penumpang yang berangkat dari Pelabuhan Simanindo, Samosir, ke Tigaras. Selain itu, KM Sinar Bangun tidak memenuhi standar keselamatan dengan ketersediaan life jacket.