Inovasi Penyembuhan Penyakit Jantung Terkini

Inanews Penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) saat ini tercatat merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan penyebab 31 persen kematian.

Pada tahun 2012 sekitar 17.5 juta orang di dunia meninggal dunia karena penyakit kardiovaskular, yang terdiri dari 42 persen kematian karena penyakit jantung koroner, dan 38 persen karena stroke. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter dan gejala sekitar 1,5 persen, gagal jantung 0,3 persen. Sedangkan, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala sebesar 1,2 persen.

Tingginya prevalensi kematian akibat kardiovaskular, tentunya membutuhkan banyak inovasi dalam pencapaian pencegahan agar menurunnya angka kematian akibat jantung.

Menurut dr.Basuni Radi, PhD, FIHA, FasCC, Scientific Committee ASMIHA (Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association) 2016, saat ini telah banyak inovasi yang bisa digunakan sebagai tindakan atau pengobatan penyakit jantung.

“Banyak inovasi baru sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas tindakan atau pengobatan penyakit jantung, mempermudah pelaksanaannya dan mengharapkan hasil yang lebih baik. Misalnya, dalam bidang intervensi non bedah, dilakukannya cara intervensi kelainan struktural jantung tanpa tindakan bedah, padahal sebelumnya harus dengan tindakan bedah,” kata dokter Basuni kepada Inanews.cc, di dalam acara ‘Dua Puluh Lima Tahun ASMIHA’, di Ritz Carlton Jakarta, Jumat (15/04).

Seperti perbaikan katup jantung tanpa bedah, koreksi kelainan bawaan jantung tanpa bedah. Penggunaan ‘stent’ pembuluh darah yang lebih tahan terhadap restenosis (penyempitan ulang, red),” ujar dokter Basuni.

Lebih lanjut, Dr.Basuni memaparkan, selain inovasi dalam tindakan dan pengobatan, banyak inovasi lainnya seperti halnya dalam hal diagnostik.

Baca Juga:  Sayuran Hijau yang Baik Dikonsumsi untuk Redakan Nyeri Haid

“Dalam bidang diagnostik, dipergunakannya alat-alat diagnostik yang dapat menunjukkan kelainan secara lebih spesifik, tiga dimensi, dan penggunaannya lebih mudah dan portabel. Dalam bidang aritmia, dipergunakannya pacu jantung yang ditanam tanpa kabel (leadless pacemaker, red), cara mendeteksi kelainan atau intervensi gangguan irama dengan lebih canggih sehingga diagnostik lebih akurat dan intervensi lebih cepat,” jelasnya lagi.

Masih dari dokter Basuni, dalam bidang pengobatan, penelitian-penelitian berkembang untuk pemakaian obat pengencer darah yang efektif, mencegah penyumbatan ulang terhadap pembuluh darah tetapi dengan risiko perdarahan yang minimal.

“Dalam pengobatan gagal jantung, ditelitinya obat-obat yang selain dapat menghilangkan gejala-gejala lebih cepat, juga dapat memperpanjang usia penderita,” tandas dokter Basuni.