Indonesia Melanjutkan Misi Perdamaian PBB Tahun Ini

Inanews –  Sebulan terakhir, isu-isu di internasional diramaikan dengan hal-hal yang mengancam secara global dan menyangkut dengan lingkup hidup dan perspektif sosial masyarakat dunia. Pertama adalah mengenai ancaman Perang Dunia ke-III yang dimotori oleh konflik Amerika Serikat dan Iran, dan yang kedua adalah ancaman virus Corona yang sudah menjangkit diberbagai negara dan memakan korban jiwa meski baru tercatat ratusan nyawa melayang. Dibalik masalah baru tersebut, ternyata PBB masih harus disibukkan dengan misi perdamaian di kawasan konflik yang belum selesai, dan itu juga melibatkan TNI sebagai garda pertahanan sekaligus representasi kekuatan negara Indonesia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB.

Perwakilan TNI yang jika diberi nama “Kontingen Garuda” bertolak kembali ke Kongo di Benua Afrika untuk mengamankan negara tersebut dari ancaman pemberontak dan konflik antar penduduk disana. Kesiapan TNI dalam melaksanakan misi perdamaian PBB pun menjadi bagian dari tugas TNI yang mengemban amanat pembukaan UUD 1945 yang terimplementasi dalam Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) TNI bagian Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (Perpres Nomor 66, 2019). Berdasarkan struktural dan posisi Indonesia sebagai bagian dari anggota Dewan Keamanan PBB, maka Satgas TNI Konga XX-Q MONUSCO ke negara Kongo demi menjaga stabilitas yang telah dibentuk oleh pasukan perdamaian PBB yang sebelumnya pernah bertugas di wilayah Afrika bagian tengah tersebut.

Sejak Indonesia tergabung kembali pada tubuh PBB, Indonesia sering mengirimkan tentaranya untuk terlibat dan bertugas di wilayah konflik. Momentum terakhir mengenai misi ini terlaksana baik setelah pasukan perdamaian dari TNI tiba dari misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Lebanon, Asia Barat. Keberhasilan mereka dalam melaksanakan tugas-tugas dalam menjaga stabilitas negara konflik membuat bangga Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan menilai bahwa pasukan yang tiba benar-benar disiplin dan sukses, dan hal-hal itulah yang membuatnya begitu bangga dengan prajuritnya.

Baca Juga:  Pemimpin yang Dirindukan di Sumba Barat

Indonesia sangat tersohor dikalangan orang-orang militer yang pernah terlibat dalam misi perdamaian PBB terutama mengenai keterlibatan dan keaktifan mereka dalam melaksanakan tugas yang dititipkan demi menjaga perdamaian di daerah konflik. Salah satunya adalah misi diplomasi publik yang memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan eksistensi sebuah niat suatu negara untuk memberikan rasa aman terhadap penduduk daerah konflik (Rachmat, 2016).

UNIFIL merupakan satuan misi penjaga perdamaian yang ditugaskan di Lebanon Selatan untuk mengatasi berbagai kekacauan yang disebabkan konflik dalam negeri yang menciptakan perang sipil disana, dan satuan misi ini masih bertugas dikarenakah tensi konflik antara milisi Hizbullah dengan tentara Israel belum surut. MONUSCO  atau dengan bahasa Indonesia disebut dengan “Misi Stabilisasi PBB di Republik Demokratik Kongo” juga merupakan respon PBB untuk menyelesaikan konflik dan permasalahan lanjutan (semacam pemberontakan etnis) akibat Perang Kongo Kedua.

Kontingen Garuda yang sedang memulai tugas di Republik Demokratik Kongo terdiri dari 175 tentara dan didominasi oleh kehadiran TNI AD (153 orang). Pangdam I/Bukit Barisan menyebutkan bahwa pasukan yang akan bertugas untuk misi perdamaian PBB tersebut akan bertindak juga sebagai duta bangsa (harianhaluan.com, 2020). Pasukan ini sudah melaksanakan upacara pemberangkatan di Jakarta Timur (jpnn.com, 2020) dan akan menjalani tugas bersama pasukan dari negara lainnya selama satu tahun (harianhaluan.com, 2020).

Meskipun kita tidak tahu apakah mereka yang baru berangkat bisa melaksanakan misi sebagai pasukan UNIFIL dari Indonesia yang baru saja pulang, tapi kita harus optimis bahwa mereka bisa turut dalam memperbaiki segala kerusakan yang terjadi di negara konflik akibat pemberontakan-pemberontakan yang masih berlanjut di sana demi mewujudkan perdamaian di dunia.

Baca Juga:  Ma'ruf Amin Jelaskan Alasan Jokowi Ajak Pendukung Pakai Putih ke TPS