Harga minyak stabil tinggi, dipicu optimisme perdagangan dan ketegangan Timur Tengah

Harga minyak masih bertahan di level tertingginya selama tiga bulan pada Senin (30/12). Pukul 09.25 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 61,73 per barel, cenderung flat dibanding akhir pekan lalu yang ada di US$ 61,73 per barel.

Kenaikan harga emas ditopang oleh optimisme kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China dan penarikan pasokan minyak mentah yang lebih tinggi dari perkiraan. Sementara itu, para trader masih memantau kerusuhan di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, pasar sedikit bereaksi terhadap berita serangan udara AS di Irak dan Suriah terhadap kelompok milisi yang didukung Iran.

“Ada beberapa katalis pendorong harga minyak mentah baru-baru ini: optimisme perdagangan, penurunan stok minyak AS, pelemahan dolar AS dan serangan udara (AS terhadap Irak),” kata analis pasar Margaret Yang dari CMC Markets seperti dikutip Reuters Senin (30/12).

Kementerian Perdagangan China pada Minggu (29/12) mengatakan mereka berhubungan erat dengan AS untuk mewujudkan penandatanganan kesepakatan dagang yang telah lama ditunggu.

Kedua negara pada 13 Desember mengumumkan perjanjian fase satu yang mengurangi beberapa tarif AS sebagai imbalan dari pembelian produk pertanian AS oleh China.

Harga minyak juga ditopang oleh penurunan perkiraan stok minyak AS. Stok minyak AS turun 5,5 juta barel dalam sepekan hingga 20 Desember, jauh lebih besar dari perkiraan analis yang disurvei Reuters yang memperkirakan penurunan 1,7 juta barel.

Di Timur Tengah, para pengunjuk rasa pada Sabtu memaksa penutupan ladang minyak Nassiriya selatan Irak, sementara AS melakukan serangan udara pada Minggu di Irak dan Suriah terhadap kelompok milisi Kataib Hezbollah.

Baca Juga:  Penguatan Ekonomi Syariah, Ma'ruf Amin Ambil Alih Kepemimpinan KNKS

“Para trader mengawasi perkembangan di Irak, produsen besar kedua OPEC,” kata Stephen Innes, kepala strategi pasar Asia AxiTrader seperti dikutip Reuters.

Kementerian Perminyakan Irak mengatakan, penghentian produksi di ladang minyak Nassiriya tidak akan mempengaruhi ekspor dan operasi produksi minyak Irak, karena akan menggunakan output tambahan dari ladang minyak selatan di Basra.