Dunia Usaha Berharap Besar pada Implementasi Omnibus Law

Inanews – Peningkatan Survei Konsumen pada November 2019 tak lepas dari peningkatan kepercayaan pelaku usaha berkat wacana omnibus law.

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani menyatakan perbaikan optimisme yang tergambarkan dalam Survei Konsumen November 2019 mencerminkan sisi global yang tidak menguntungkan bagi Indonesia memang masih menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Meski demikian, pada 2020 ada sentimen keyakinan dari gebrakan pemerintah berupa omnibus law yang bisa berjalan.

“Itu [Omnibus Law] memberikan sentimen positif, karena pada dasarnya kita tak bisa bergantung hanya pada pasar domestik saja,” terang Shinta di Co-Hive Mega Kuningan, Kamis (5/12/2019).

Dia menyatakan, ke depannya Indonesia yang mau tumbuh di atas 5% harus lebih banyak menarik investasi dan mendorong ekspor. Oleh sebab itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) ini menilai dari sisi peningkatan investasi harus diperbaiki dulu iklimnya lewat perbaikan dan harmonisasi regulasi.

“Optimisme kami berangkat dari pemerintah ternyata serius lewat omnibus law, tapi dari segi pasar, global dengan perang dagang kita memang turun tapi kita tetap harus kompetisi, maka dicari peluangnya apa,” ujar Shinta.

Dia menilai insentif yang harus diberikan memang untuk investasi yang berorientasi ekspor dan industri padat karya. Meski demikian, tahun depan masih perlu kajian lebih lanjut dari peluang pasar pada industri padat karya. Beberapa peluang lain yang tersedia untuk dorong pertumbuhan dan membangun optimisme tahun depan adalah ekonomi digital dan pariwisata.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menyatakan narasi yang terbangun saat ini tentang perlambatan ekonomi global dan di Indonesia, ditambah pemilu tahun ini memang sempat memberi pesimisme pasar. Alhasil perusahaan dan masyarakat cenderung menahan belanja sampai menunggu adanya kepastian.

Baca Juga:  Utang Global Catat Rekor Baru Lampaui US$250 Triliun

“Sehingga kalau dilihat dari kondisi saat ini, hasil pemilu sudah jelas, arah kebijakan pemerintah mulai terlihat termasuk omnibus law, dan kesadaran ekonomi global melambat bukan resesi membuat optimisme meningkat bagi konsumen,” ujar Wisnu kepada Inanews.cc.

Dia menyatakan, meski demikian belum ada indikator atau faktor pemicu lain dalam kurun waktu 6 bulan ke depan yang bisa mempertahankan optimisme tersebut.

Dilansir dari laporan Survei Konsumen November 2019 Bank Indonesia, optimisme yang terbangun saat ini sampai 6 bulan ke depan tak lepas dari catatan pada November 2019, porsi pendapatan responden rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 68,0% menjadi 68,9%.

Peningkatan proporsi konsumsi diikuti dengan menurunnya porsi tabungan terhadap pendapatan atau saving to income ratio sebesar 0,5% menjadi 19,3%, dan menurunnya porsi cicilan pinjaman terhadap pendapatan atau debt service to income ratio sebesar 0,4% menjadi 11,8%.

Survei ini juga menyatakan, konsumen memprakirakan pengeluaran konsumsi pada 3 bulan mendatang sampai Februari 2020 akan meningkat dari bulan sebelumnya, terindikasi dari Indeks perkiraan konsumsi rumah tangga 3 bulan mendatang yang mengalami kenaikan dari 160,3 pada bulan sebelumnya menjadi 161,2.

Sementara itu pada pada 6 bulan mendatang yakni Mei 2020, responden memprakirakan jumlah tabungan akan menurun, tetapi semakin optimistis jumlah utang akan menurun. Hal ini tercermin dari Indeks Perkiraan Jumlah Tabungan yang menurun dari 121,2 menjadi 116,7 dan Indeks Perkiraan Jumlah Utang meningkat dari 153,0 menjadi 161,1.