Cara Pengolahan yang Salah Buat Nutrisi Ikan Berkurang

InanewsTingkat konsumsi makanan bergizi di masyarakat Indonesia bisa dikatakan masih rendah, termasuk ikan. Terbukti, berdasarkan hasil Riskesdas 2018, sebanyak 30,8 persen anak balita mengalami stunting. Selain itu, 48,9 persen ibu hamil mengalami anemia.

Fakta tersebut menunjukkan masyarakat kurang mengonsumsi makanan bergizi. Padahal makanan bernutrisi cukup berlimpah, sebut saja ikan. Banyak vitamin dan mineral yang terkandung dalam seekor ikan. Meskipun tingkat konsumsi ikan per tahun mengalami kenaikan, tapi itu saja belum cukup.

“Sebenarnya pemerintah sudah kampanye di mana-mana mengenai gerakan makan ikan. Tapi tetap saja kebiasaan makan ikan di rumah belum cukup. Alasannya masih repot dan segalanya,” ujar Dr Artati Widiarti selaku Senior Analis Pengembangan Pasar Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ditemui dalam final I-PLAN Food Design Challenge, Jumat 13 Desember 2019.

Lebih jauh Artati mengatakan, saat ini masyarakat mengolah ikan hanya sebatas digoreng atau dibakar. Padahal cara pengolahan tersebut bisa mengurangi kadar nutrisi yang terkandung dalam ikan.

Misalnya terlalu gosong saat menggoreng atau membakar ikan. Belum lagi jika cara penyimpanan sebelum diolah salah.

Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pengolahan ikan agar dapat membantu menjaga kadar nutrisi. Melihat hal tersebut, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kesehatan mengadakan kompetisi untuk masyarakat mencari inovasi produk makanan yang siap santap dan siap masak menggunakan bahan dasar biota laut. Mulai dari ikan, rumput laut, kerang-kerangan, udang, dan cumi.