BI Optimistis PMI Manufaktur Tetap Kuat di Akhir Tahun

Inanews – Bank Indonesia meyakini dengan turunnya inflasi bersamaan dengan penuruna Purchasing Manufacturing Index (PMI), konsumsi akhir tahun tidak akan turun drastis.

PMI Manufaktur per November 2019 tercatat pada lecel 48,2, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan PMI Manufaktur per Oktober 2019 yang berada di angka 47,7.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyatakan saat ini private sector atau pihak swasta pada jelang akhir tahun, khususnya kuartal IV memang cenderung tidak terlalu banyak melakukan aktivitas bisnis. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu indikator dari menurunnya PMI.

Dia menampik adanya perlambatan konsumsi, sebaliknya, dia yakin kuartal IV/2019 adalah momentum pemerintah melakukan pengeluaran yang besar. Jadi, sekalipun siklus bisnis cenderung melambat, daya beli terjaga dan konsumsi akan tetap merangkak naik.

“Dalam kondisi seperti saat ini mesti lihat lebih spesifik, masih ada sektor yang masih jadi unggulan kita. Contoh kaya otomotif itu ekspor kita bagus. Lalu industri mamin itu ekspor kita masih bagus,” ujar Destry di Kantor Bank Indonesia, Senin (2/12/2019).

Oleh sebab itu, di tengah kondisi ketidakpastian global yang tinggi, hingga menyebabkan perlambatan ekonomi, Destru menyebut perlu melihat persoalan secara lebih utuh. Maka, untuk menjamin perlambatan ekonomi tidak terpuruk, dia mengklaim Bank Indonesia turut memberi perhatian pada tiga sektor utama non migas yakni; otomotif, properti, dan green sector.

Salah satu bentuk keberpihakan adalah relaksasi kebijakan makroprudensial yang berlaku hari ini, dimana Bank Indonesia mengatur dalam PBI No. 21/13/PBI/2019 tentang Perubahan atas PBI No. 20/8/PBI/2018 Tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor.

Baca Juga:  Kadin Minta Paket Kebijakan XVI Ditunda, Ini Tanggapan Menkeu Sri Mulyani

Dengan lebih rinci, Bank Indonesia  melakukan pelonggaran atas Rasio Loan to Value / Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan Properti sebesar 5%, Uang Muka untuk Kendaraan Bermotor pada kisaran 5% sampai 10%.

Selain itu Bank Indonesia turut mengatur tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit atau pembiayaan properti dan Uang Muka untuk Kendaraan Bermotor yang berwawasan lingkungan masing-masing sebesar 5%