Benarkah Minum Alkohol Picu Munculnya Rasa Lapar?

Inanews – Rasa lapar biasanya datang usai mengonsumsi alkohol. Ternyata, ada alasan ilmiah di balik semua ini. Menurut peneliti di Pennsylvania State University College of Medicine menyebut, kondisi itu muncul karena adanya dua perilaku yang dihubungkan oleh spot di otak.

Riset yang dipublikasikan di American Physiological Society ini dilakukan dengan menilai pola makan dan minum dari tiga kelompok tikus jantan.

Kelompok tikus pertama diberi diet tinggi lemak terus menerus, dan diberi akses terbatas kepada air yang telah dicampur dengan alkohol.

Kelompok tikus kedua diberi “makanan tikus normal” dan juga akses terbatas pada air yang dicampur dengan alkohol.

Kelompok tikus ketiga diberi akses terbatas dengan diet tinggi lemak dan campuran alkohol.

Kondisi pada kelompok terakhir menyebabkan tikus mengikuti para tikus yang memiliki pola makan tak terkontrol, atau oleh peneliti disebut dengan “binge diet”.

Ketiga kelompok tikus diberi air minum selama percobaan.

Riset ini dilakukan selama delapan minggu, dengan rasio alkohol terhadap air dalam campuran yang diberikan pada tikus meningkat dari 10-20 persen. Ditemukan, kelompok tikus yang mengikuti “binge diet” juga minum lebih banyak alkohol daripada air selama percobaan.

Para peneliti menyatakan, tikus-tikus ini menunjukkan preferensi yang jelas untuk alkohol. Di sisi lain, tikus yang tidak mengikuti “binge diet” mengonsumsi lebih sedikit alkohol selama penelitian.

Memang, hubungan antara minum alkohol dan pesta makan pada manusia memang membutuhkan penilaian lebih lanjut. Namun, temuan ini dianggap mampu menunjukkan hubungan antara konsumsi alkohol dan makanan yang berlebihan.

Peneliti mengatakan, obesitas dan kencanduan alkohol, dua gangguan kronis yang paling umum, khususnya di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Biar Gigi Tak Makin Berlubang, Ingatkan Anak untuk Lakukan 3 Hal Ini!

Fenomena ini mungkin terkait secara perilaku akibat pola makan, seperti pola makan tinggi lemak, dan konsumsi alkohol berlebihan, yang mempengaruhi area saraf yang sama.

Caitlin Coker, selaku pemimpin riset menyebut, riset ini dapat terbukti bermanfaat di masa depan, meski dilakukan lewat media tikus

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of