Arif, Difabel di Kudus yang Antusias Gunakan Hak Pilihnya

Inanews –  Muhammad Arif, adalah satu di antara kaum disablitas di Kudus yang peduli dengan pesta demokrasi tahun ini. Pemuda asal Desa Krandon RT 5 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus, ini rela libur dari aktivitas kerja jadi loper koran demi bisa mencoblos hari ini, Rabu (27/6/2018).

Pagi baru saja beranjak, dan matahari juga mulai menampakkan sinarnya. Suasana di Krandon, pagi terlihat lebih lengang. Kawasan padat pondok pesantren dan sekolah agama yang biasanya ramai, kini libur semua. Mereka siap siap meramaikan hari pencoblosan.

Arif terlihat sudah siap bergegas ke TPS 2, Desa Krandon. Di situlah, dia memanfaatkan suaranya. Dengan kemeja kotak, celana hitam, serta sepasang kaus kaki hitam, Arif tampil rapi. Dari teras rumahnya, Arif merangkak naik ke kursi rodanya dan menuju TPS.

Baca juga : Dalam Statistik Ini, Lionel Messi Sudah Lampaui Maradona

 

Setidaknya perjalanan Arif ke TPS 2 memakan waktu 10 menit. Begitu sampai di lokasi TPS yang memanfaatkan di gedung SD Krandon, anak kedua dari delapan bersaudara disambut tim keamanan. Ada polisi, TNI, dan linmas menuntun dia di kursi roda. TPS 2 berada di ruang kelas paling pojok. 
Para petugas memprioritaskan Arif untuk bisa mencoblos lebih dulu dibandingkan warga normal. Seorang petugas menuntunnya selama Arif mengikuti tahapan pencoblosan. Bahkan dengan bangga, Arif memperlihatkan jari kelingking tangannya usai dicelupkan ke tinta.

“Baru kali ini saya mencoblos. Pilkada sebelumnya saya tidak mencoblos meski dapat surat suara,” kata Arif di lokasi, Rabu pagi.

Dia sadar hanya dengan cara ini, aspirasinya bisa tersalurkan. Dia mewakili kalangan disabilitas di Kudus, maupun di negara ini, berharap pemimpin yang nanti jadi, wajib peduli dengan difabel. Sebab selama ini, dia dan rekan sesama difabel, masih termarjinalkan. Pemerintah, kata dia, seolah tidak menganggap mereka ada.

Baca Juga:  Kampanye Pakai Mobil Dinas, Caleg Gerindra Divonis 1 Bulan Penjara

“Kami benar-benar berharap agar pemimpin yang jadi. Baik gubernur, atau bupati Kudus, tolong perhatikan kami para disabilitas. Jangan seperti yang lalu, yang kurang peduli. Pemimpin jangan hanya mementingkan chasing-nya, tapi juga isinya,” ujarnya penuh harap.

Bahkan, dia berharap pula, pemimpin yang jadi akan memberikan kartu difabel. Dia menyebutnya kartu difabel mandiri. Dengan kartu itu, para difabel bisa mendapatkan kemudahan dalam berbagai urusan. Seperti halnya kemudahan mengurus administrasi kependudukan.

“Dengan kartu itu pula, jika ada pemberian bantuan. Juga bisa terdata dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu, Hilman Najib Ketua PPS Desa Krandon, di desa itu ada 11 orang difabel yang akan memilih pada pilkada sekarang. Mereka terdata saat proses coklit daftar pemilih beberapa waktu lalu.

“Mereka memang kami prioritaskan agar bisa mencoblos. Selain difabel karena lumpuh kakinya, ada juga yang bisu serta tuli,” terangnya di lokasi.

**
Anda pemilik hak pilih di Pilkada Serentak 2018? Jangan ragu untuk menggunakan suara Anda!