Analis: Keuntungan Amerika Atas Cina Tak Akan Bertahan Lama

Inanews – Belum lama ini, Trump mengancam akan menaikkan tarif produk Amerika di China.

Namun menurut Analis tren geopilitik dan ketua KKR Global Institute David Petraeus, keuntungan negosiasi Amerika atas Cina dalam pembicaraan perdagangan tidak akan bertahan selamanya.

“Dalam jangka pendek, Amerika Serikat memang memiliki pengaruh yang sangat besar melihat kebutuhan Cina untuk tetap membeli barang-barangnya. Di sisi lain, melambatnya perekonomian negara itu. Namun untuk jangka panjang, tentu tidak,” kata David Petraeus dikutip CNN, Minggu (12/5/2019).

Menurut Petraeus, Trump seharusnya mulai khawatir tentang perekonomian Amerika mengingat kampanye tahun 2020 akan semakin dekat.

“Presiden Trump harus mulai khawatir tentang apa yang terjadi pada perekonomian ketika dia mendekati kampanye pemilihan ulang,” kata Petraeus.

Kekhawatiran dalam perang dagang juga membuat saham AS turun tajam minggu ini meninggalkan optimisme Wall Street.

Fitch Ratings turut memperingatkan bahwa bila ancaman Trump menjadi kenyataan, nantinya China turut menaikkan tarif barang-barangnya senilai 200 miliar dollar AS dari 10 persen menjadi 25 persen. Hal ini tentu akan merusak perekonomian Amerika.

“Konsumen Amerika akan menghadapi harga yang lebih tinggi dan pekerjaan AS akan hilang jika ancaman pemerintah menjadi kenyataan,” tulis Fitch Ratings dalam sebuah laporan dikutip dari CNN, Minggu (12/5/2019).

Selain itu, kenaikan tarif juga bisa menimbulkan risiko bagi kampanye pemilihan ulang Trump.

Menurut penasihat kampanye Trump Stephen Moore, sebetulnya ada tujuan khusus saat Trump menaikkan tarif.

“Trump memeriksa pasar keuangan setiap beberapa jam karena dia tahu dia tidak bisa terpilih kembali jika pasar saham dan ekonomi ambruk. Karena itulah dia menaikkan tarif,” kata Stephen Moore dikutip CNN, Minggu (12/5/2019).

Baca Juga:  PLTU Serap 41,4 Juta Ton Batu Bara Sepanjang Semester I

Justru sebetulnya, perang dagang yang berkepanjangan lah yang akan membuat Trump “penyok” dalam kemampuan ya untuk menjalankan ekonomi Amerika Serikat.

“Dia mungkin akan mulai merasakan tekanan untuk menyelesaikan masalah ini dan akhirnya menunjukkan kesepakatan dalam pemerintahannya,” tutur Petraeus.