Aberdeen Standard Investments :Pasar Tunggu Sentimen Positif

Inanews – Aberdeen Standard Investments Indonesia menyatakan investor saat ini menantikan gebrakan yang diharapkan mampu menstabilkan ekonomi serta sentimen investor.

Bharat Joshi, Asian Equities Investment Director, Aberdeen Standard Investments Indonesia menyatakan dalam genap sebulan berlalu sejak terbentuknya susunan kabinet pemerintahan Indonesia masa jabatan 2019-2024, pasar belum menjadikan dasar untuk menarik kesimpulan konkret jangka panjang.

Meski demikian dia menilai dalam kabinet Jokowi – Ma’ruf ada sosok-sosok yang memberikan keyakinan kepada investor jangka panjang bahwa disiplin fiskal akan dipertahankan dan pemerintah akan terus mendorong reformasi fiskal yang lebih dalam. Sikap keras terhadap korupsi dan penggelapan pajak juga membangun kredibilitas dimata investor.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lanjutnya, diharapkan akan mampu meningkatkan disiplin keuangan dan pengawasan tata kelola di seluruh perusahaan BUMN, lanjutnya.

Sementara itu, konsumsi masyarakat masih menjadi sumber pertumbuhan di era Presiden Jokowi. Penurunan suku bunga acuan menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.

Bharat menjelaskan, Bank Sentral (BI) telah memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini, yang mana hal ini seharusnya menguntungkan bank-bank dengan basis pendanaan dan neraca likuiditas yang cukup besar. Ada juga peluang di sektor properti; valuasi terlihat menarik karena harga saham tetap baik di tengah banyaknya berita negatif.

“Meskipun sektor semen lemah, permintaan semen per kapita masih tetap terendah di ASEAN dan konsolidasi akan menguntungkan industri. Kami juga tetap positif dengan bidang kesehatan. Penetrasi sektor ini relatif rendah di Indonesia, dan ini adalah salah satu dari banyak sector yang mendapatkan perhatian Presiden Jokowi dalam masa jabatan keduanya.”jelasnya.

Selain itu, dia menilai investasi asing (Foreign Direct Investment/ FDI) di Indonesia mulai meningkat pasca terpilih kembalinya Presiden Jokowi. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut mengingat biaya produksi negara ini masih rendah, sektor infrastruktur masih terus meningkat, dan angka permintaan masih kuat.

Baca Juga:  Demonstrasi Berjilid-Jilid, Ini Komentar Menkeu Sri Mulyani

“Satu hal yang pasti, kondisi suku bunga rendah akan cukup bertahan dan harapannya ini akan meringankan tekanan pada ‘dompet konsumen’ dalam hal pengeluaran saat kita memasuki tahun 2020,” tutupnya.