3 Bulan Tak Bertemu Sienna, Marshanda Pernah Mimpi Wajah Anaknya Blur

InanewsMarshanda mengungkap masa lalu pahit ketika ia sempat mengalami kesulitan bertemu dengan sang putri, Sienna Ameerah Kasyafani. Hal itu terjadi di awal masa perceraian dengan Ben Kasyafani tahun 2014.

Selama hampir 3 bulan, Marshanda tak bisa bertatap muka langsung dengan anak semata wayangnya. Kekacauan itu makin bertambah saat pesinetron Bidadari ini menghadapi banyak masalah dalam hidup.

“Semua berantakan, aku bikin banyak kesalahan, Ben banyak tidak paham dan ada campur tangan orang lain,” kata Marshanda mengawali kisahnya dalam vlog Ussy Andhika Official.

Ibu mana yang tak merasakan kerinduan pada putrinya yang kala itu berusia 1 tahun 8 bulan. Saat rasa itu tak terbendung, Marshanda tiba-tiba memimpikan sosok Sienna. Namun ada hal aneh yang dirasakan perempuan yang akrab disapa Chaca itu dalam mimpinya.

“Aku mimpi, gendong Sienna sambil ketawa-ketawa. Pas aku lihat mukanya, blur. Enggak ada mukanya. Seperti gambar burem gitu,” tutur Chaca.

“(Kejadian) itu bisa mewakili gambaran perasaan aku kan?” imbuhnya.

Namun kini Marshanda bersyukur. Ia bisa memiliki waktu bersama Sienna setidaknya tiga kali seminggu. Waktu tersebut dimanfaatkan betul oleh aktris 30 tahun ini menjalani aktivitas menyenangkan bersama sang putri.

“Aku selalu melakukan yang terbaik kalau lagi sama putriku. Mudah-mudahan dari segelintir waktu itu, itu jadi masa yang memorable buat masa kecilnya Sienna,” harap Marshanda.

Ussy Sulistiawaty dan Andhika pun mengulik bagaimana Marshanda bisa menghadapi masalah tersebut. Khususnya saat ia hanya memiliki sedikit waktu bertemu dan merindu sang putri.

Menjawab hal ini, Marshanda mengatakan ia akan membiarkan rasa ketidaknyamanan itu ada dan tak berusaha menghindar. “Menangislah, feeling is healing. Kalau lagi frustasi ataupun kangen, rasain aja. Jangan ditahan atau ditunda,” ucapnya.

Baca Juga:  Ari Lasso Dilarikan ke Rumah Sakit karena Terserang Low Back Pain

Ia menambahkan, “Kalau lagi di rumah, ya biarkan semua rasa sedih dan ketidakmengertian itu muncul. Sampai bentuknya menjadi apapun itu. Air mata, tulisan, doa, curhat, dan mendoakan orang lain yang punya kuasa atas kuasa ini.”